TANGISAN DARI BELAKANG CANDI SINGOSARI


Oleh Ida Fitri
Radar Malang, 30 Agustus 2015
Angin sore berdesir di tengkuk Anjani. Reflek tangannya mengusap kuduk. Lobang pori-porinya membesar. Mata Dwarapala di depan sana seperti sedang menelanjanginya sambil berseru, “Kenapa kau baru datang?”

Sadarlah, Anjani! Itu hanya patung batu setengah duduk sambil memegang gada. Tak mungkin patung itu berkata-kata. Ia pasti terbawa ucapan Vara, teman satu ruang kuliahnya yang lahir dan besar di Malang. “Jangan pergi sendirian ke Candi Singosari, terutama pada sore hari. Apalagi kau seorang pendatang.”

Anjani belum sempat menceritakan jika buyut ibunya berasal dari Singosari. Karena itulah nama Anjani tersemat padanya. Dulu kakek ibu ikut program transmigrasi ke Sumatera. Mereka ditempatkan di pedalaman Aceh. Ibu bernasib baik karena berhasil mendapatkan biaya siswa ke perguruan tinggi. Bertemulah ayah dan ibu saat mereka duduk di bangku kuliah. Kisah cinta sepasang manusia dua suku tersebut melahirkan Cut Anjani Keumala Putri.

“Kenapa kau diam saja?” Sebuah suara kembali terdengar dari arca di depannya. Anjani tergidik, kemudian cepat-cepat meninggalkan tempat itu untuk masuk ke dalam candi. Ia sudah berada di tempat yang sering diceritakan kakek. Sia-sia saja kalau tidak masuk. Anjani mempercepat langkah, berusaha mengejar orang-orang yang berjalan di depannya.

Sesampai di tangga candi, ia mendengar suara aneh seperti orang sedang bekelahi dari arah samping. Kakinya melangkah menuju sumber suara. Dahi Anjani berkerut mendapati pemandangan di samping candi.
            
             Seorang lelaki kekar berjambang dengan sangar menyerang lelaki lainnya yang memakai mahkota lengkap dengan baju kebesaran. Darah segar mengalir dari bekas luka yang berada di bahu kiri lelaki bermahkota. Keduanya menggunakan keris sebagai senjata.
            
             Ah! Mereka sedang syuting drama sejarah, pikir Anjani. Hanya kemana perginya cameraman dan kru lain? Itu bukan urusannya. Ia hendak berbalik untuk kembali ke dalam candi. Suara jerit kesakitan membuatnya terkesima. Sebilah keris tepat menancap di ulu hati pria bermahkota. Tangannya mendekap dada yang terluka. Pria berjambang tersenyum sinis.

           “Hentikan! Panggil Ambulance! Ada yang terluka,” teriak Anjani tak bisa menahan diri. Anjani sudah melewati banyak hal di tanah tempat ia dilahirkan. Saat ia kecil, tetangganya ditembak di depan rumah. Anjani tak pernah tahu alasan tetangganya harus mati. Dan sekarang saat berada di tanah ibunya, ia juga harus melihat hal yang sama.

            “Aku Jayakatwang, penguasa tunggal tanah ini, akan kuhabisi semua keturunanmu, Kertanegara!” Lelaki berjambang seakan tidak menghiraukan keberadaan Anjani. Diambilnya keris yang tertancap di tubuh pria satunya, lalu beranjak ke sisi belakang candi.

            Anjani mendekati tubuh yang limbung ke tanah. Dilihatnya tubuh lelaki itu kejang kemudian diam tak bergerak lagi. Gadis itu tak punya keberanian untuk memeriksa tanda-tanda kehidupan di tubuh yang tak berdaya itu. Hanya tiba-tiba ia tersentak, kemudian dilihatnya pemandangan sekeliling. Tak ada lagi orang-orang berlalu lalang yang tadi datang bersamanya. Tempat tersebut berubah menjadi area pertempuran. Mayat prajurit bergelimpangan. Kebingungan merasuki hati Anjani. Lebih terkejut lagi saat ia menatap tangan dan tubuhnya sendiri.

            Vara benar, seharusnya ia tidak datang ke tempat ini.
***
            Jayakatwang tertawa sumringah. Kemenangan sudah di tangan. Kertanegara baru saja mati di ujung kerisnya. Satu langkah lagi, maka semuanya akan sempurna. Cerita Anusapati tak boleh berulang kali ini. Seluruh keturunan Kertanegara harus dihabiskan, jika tidak ingin singasananya terancam suatu saat nanti. Dulu Ken Arok pernah melakukan satu kesalahan. Membesarkan anak tiri yang kelak menjelma menjadi malaikat pecabut nyawanya sendiri. Jayakatwang tidak senaif itu.

            Ia sempat melihat beberapa orang dayang mengawal seorang lelaki ke arah belakang candi. Itu pasti salah satu anggota keluarga Kertanegara. Setengah berlari ia melihat sekelompok kecil perempuan berjalan tergesa di depan sana.

            “Behenti!.”

            Seakan tuli, perempuan-perempuan itu malah mempercepat langkah. Jayakatwang menjadi kesal dan mengejar mereka dengan cepat. Kelompok itu tak punya pilihan lain selain berhenti. Perempuan-perempuan itu membentuk pagar betis melindungi seorang lelaki berpakain bangsawan.

            “Pengecut! Bisanya sembunyi di belakang perempuan.”

Lelaki muda yang dikawal acuh, hendak keluar dari barisan menghadang penantang. Tapi sebuah tangan menariknya pergi. Para perempuan itu membatu tak mau bergeser sedikit pun, menghalangi tuannya dari ancaman Jayakatwang. Seseorang membawa pergi sang tuan dengan cepat.
            
          “Kalian bosan hidup?”

Mudah saja, lelaki yang diamuk amarah tersebut menebas dayang-dayang yang tak berdaya. Tubuh mereka jatuh satu persatu di belakang candi. Jayakatwang hendak mengejar kembali lelaki yang tadi dilindungi dayang-dayang itu, tapi seorang prajurit memanggilnya dan membisikan sesuatu. Spontan Jayakatwang berbalik arah menuju istana.
***
            Anjani berjalan sambil menangis menuju tumpukan tubuh-tubuh yang bersimbah darah. Ia tak pernah menduga akan menyaksikan lagi sebuah pembantaian. Semuanya sudah jelas sekarag. Ia terlempar ke masa pemberontakan Jayakatwang yang meruntuhkan kerajaan Singosari. Tangisannya semakin keras saat mendapati sosok yang tidak asing sedang sekarat di antara tumpukan mayat para dayang.

            “Ibu?!” Tidak ini tidak mungkin. Kenapa ibunya berada di sini? Tapi itu memang wajah ibu. Gadis tersebut memangku tubuh wanita yang selama ini dikenal sebagai ibunya.

            “Mayang …,” panggil perempuan itu lirih. Sedikit bingung Anjani menjawab panggilan wanita tersebut. “Nduk, kau harus memastikan Raden Wijaya selamat.”

            “Ibu tenang dulu, jangan banyak bergerak. Aku akan mencari pertolongan.” Sebuah luka tusuk menganga di bahu kiri wanita itu.

            “Tidak, Cah Ayu. Ibu tak bisa tenang sebelum Raden selamat.”

            “Aku pastikan beliau selamat, Bu. Tolong bertahanlah.” Raden Wijaya adalah raja pertama Majapahit. Tak akan terjadi apa-apa pada lelaki itu. Kenapa ibunya mencemaskan hal yang tidak perlu?

            “Benarkah?” Sebuah senyuman tersungging di paras wanita itu. Kemudian kepalanya terkulai dalam pangkuan Anjani. Gadis tersebut menangis sejadi-jadinya. Ibu telah tiada. Banyak hal yang tidak bisa ia jawab. Kenapa ibu berada di sini dan memanggilnya Mayang? Dan kini tubuhnya menjadi bocah berusia lima tahun. Apa yang harus dilakukannya? Air mata jatuh berderai tiada henti. Bocah itu menangis semakin menjadi-jadi. Dan alam pun ikut bersedih. Hujan jatuh dengan lebatnya. Tubuh kecil Anjani semakin menggigil.
***

            “Bangun, Nduk!”

            Anjani berusaha membuka matanya. Ia merasakan sekujur tubuhnya kedinginan. Benar saja, seluruh pakaiannya basah kuyup. “Apa yang terjadi padaku?”

            “Sepertinya kamu pingsan dalam hujan deras tadi, Nduk. Beruntunglah saya menemukan kamu di belakang candi.”

            Cepat, anjani melihat sekeliling, tak ada lagi bekas-bekas pertempuran. Dan ia sudah memakai baju seperti saat pertama datang ke tempat ini. Dan bapak yang di depannya menggunakan kaca mata minus, mesti sebuah kopiah tersemat di kepala. Hatinya bertanya, apa yang baru saja terjadi?

            Anjani harus memastikan satu hal lagi. Gadis itu mencari sesuatu di kantong celananya. Ternyata android-nya ikut basah dan mati. Ia meminjamkan handphone bapak yang sudah menolongnya. Denga cepat jari-jarinya menekan sebuah nomor yang sudah berada di luar kepala.

            Tut tut tut …, tak terdengar jawaban. Ditekannya lagi, tetap tak ada jawaban.

“Ibu!”  panggil Anjani dengan suara bergetar.


Selesai

Komentar

Postingan Populer